RESONANSI
Suatu
molekul mengandung atom-atom tertentu yang berlokasi di dalam ruang. Salah satu bagian molekul yang tentu posisinya
dapat ditentukan adalah inti atom (diperoleh melalui anpat alisis difraksi
sinar-X oleh kristal), sedangkan bagian yang tidak dapat ditentukan adalah
elektron ikatan yang posisinya berubah kemudian diikuti penambahan elektron
tersebut ke salah satu atom. Bagian ini tidak boleh diabaikan karena hasil dari
perubahan tersebut adalah suatu struktur penyumbang (atau canonical structure)
yang dianggap sebagai penyumbang dalam hal yang dapat diukur seperti energi
terhadap struktur nyata. Molekul tersebut dikenal sebagai suatu hibrida
resonansi dari berbagai struktur penyumbang yang hanya berbeda dalam hal
distribusi elektron valensi, dan dinyatakan dengan anak panah ganda (↔).
Meskipun menjelaskan dari segi 2 energi molekul diperlukan banyak struktur
penyumbang, tapi sering pula ditemukan satu struktur ikatan valensi yang dibuat
sudah cukup untuk digunakan menjelaskan data kualitatif molekul.
Interaksi
antara sistem π tetangga sering dinyatakan resonansi.
Resonansi memerlukan dua atau lebih struktur ikatan valensi dalam menggambarkan
suatu molekul.
Sumbangan
struktur 3b dan 3cbuta-1,3-diena menjelaskan lebih pendeknya dan karakter
ikatan rangkap dua ikatan C2-C3, sedangkan sejumlah struktur penyumbang 3 yang
terlibat dalam menggambarkan struktur ikatan valensi senyawa benzena (4) adalah
suatu gambaran sifat simetri kelipatan-enamnya yang mana hal ini tidak tampak
bila hanya digambarkan dengan salah satu struktur tunggal. Kelemahan dari
sistem ini dalam menggambarkan secara kualitatif struktur molekul adalah kurang
kompaknya struktur-struktur tersebut. Akibatnya, bilamana diperlukan penekanan
pada sifat-sifat tertentu maka diperlukan penulisan struktur ikatan valensi
tunggal yang utama yang merupakan gabungan dari sejumlah struktur senyawa yang
dimaksud.
GAYA
VAN DER WALLS
Gaya Van
Der Waals merupakan gaya tarik menarik listrik yang relatif lemah akibat
kepolaran molekul yang permanen atau tidak permanen. Kepolaran permanen terjadi
akibat kepolaran ikatan dalam molekulnya, sedangkan kepolaran tidak permanen terjadi
akibat Molekulnya terinduksi oleh partikel lain yang bermuatan sehingga molekul
bersifat polar sesaat secara spontan. Ikatan Van Der Waals muncul akibat adanya
kepolaran, maka semakin kecil kepolaran molekulnya maka gaya Van Der Waalsnya
juga akan makin kecil.
Ikatan
Van der Waals juga ditemukan pada polymer dan plastik. Senyawa ini dibangun oleh
satu rantai molekul yang memiliki atom karbon, berikatan secara kovalen dengan
berbagai atom seperti hidrogen, oksigen, nitrogen, dan atom lainnya. Interaksi
dari setiap untaian rantai merupakan ikatan Van der Waals.
Gaya van
der waal berdasarkan jenis kepolaran partikelnya yaitu:
a. Interaksi Ion – Dipol (Molekul Polar)
Terjadi
interaksi tarik menarik antara ion dengan molekul polar (dipole).
b. Interaksi Dipol – Dipol
Merupakan interaksi antara sesama molekul polar
(dipol). Interaksi ini terjadi antara ekor dan kepala dari molekul itu sendiri.
Berlawanan kutub saling tarik menarik dan jika kutubnya sama saling tolak – menolak.
c. Interaksi Ion – Dipol Terinduksi
Dipol terinduksi merupakan molekul netral, menjadi
dipol akibat induksi partikel bermuatan yang berada didekatnya.
d. Interaksi Dipol – Dipol Terinduksi
Molekul dipol dapat membuat molekul netral lain
bersifat dipol terinduksi sehingga terjadi antar aksi dipole – dipol
terinduksi.
ELEKTRONEGATIVITAS
Elektronegativitas
adalah suatu konsep yang dimunculkan oleh kimiawan sebagai hasil pengembangan
dari fenomena moment dipole permanen yang ditimbulkan oleh molekul asimetris.
Elektronegativitas didefinisikan sebagai tenaga laten dari suatu atom dalam
suatu molekul untuk menarik elektron. Konsep ini tergantung pada teori struktur
kimia organik modern untuk menginterpretasi beberapa sifat seperti: kekuatan
keasaman dan kebasaan, panjang ikatan kimia, karakter ionik, volatilitas, kelarutan,
potensial redoks, kekuatan ikatan hidrogen, dan lain-lain.
Beberapa
metode yang telah diusulkan untuk menetapkan skala elektronegativitas atom
namun yang paling luas penggunaannya adalah skala Pauling yang mana skala ini
berdasar pada data termodinamika. Paling memikirkan bahwa adalah layak untuk
mengharapkan energi suatu ikatan A-B dari rata-rata aritmetika energi ikatan molekul
simetri A-A dan B-B. Tentu saja hal ini dapat dipenuhi jika atom A dan B cukup
mirip.
Jika
elektronegativitas A dan B berbeda maka kerapatan elektron ikatan kovalen akan
tidak simetris, tetapi lebih tinggi di dekat atom yang berelektronegativitas
lebih besar sehingga pada atom ini dihasilkan muatan parial negatif, dan pada
atom yang lain dihasilkan muatan positif.
Jadi,
ikatan kovalen tersebut mengandung karakter ionik, dan tarikan Coulombik antara
muatan-muatan yang berlawanan membuat ikatan menjadi lebih kuat daripada jika ikatan
dalam kovalen murni. Oleh karenanya energi ikatan yang teramati EAB akan lebih besar
daripada rata-rata aritmatika energi ikat A2 dan B2. Untuk menghitung perbedaan
ini, Pauling menggunakan persamaan:
EFEK
INDUKSI
Ikatan
C-C dalam etana adalah nonpolar sempurna karena ikatan tersebut menghubungkan
dua atom yang ekuivalen. Akan tetapi ikatan C-C dalam kloroetana terpolarisasi
oleh adanya atom klor elektronegatif. Polarisasi ini sebenarnya adalah jumlah
dari dua efek. Pertama, atom C-1 telah kekurangan sejumlah kerapatan
elektronnya
oleh elektronegativitas Cl yang lebih besar, diganti secara parsial oleh ikatan
C-C yang ada didekatnya mengakibatkan polarisasi ikatan ini dan suatu muatan positif
kecil pada atom C-2. Polarisasi satu ikatan yang disebabkan oleh polarisasi ikatan
tetangga disebut efek induksi. Efek ini tidak hanya dirasakan oleh ikatan tetangga,
namun dapat pula berpengaruh sampai ikatan yang lebih jauh. Efek ini berkurang
dengan bertambahnya jarak. Polarisasi ikatan C-C menyebabkan pula sedikit polarisasi
tiga ikatan C-H metil.
Resonasi
dan induksi tidak perlu bekerjanya dalam arah yang sama. Di dalam keadaan dasar
(ground state) efek-efek ini bekerja secara permanen dan dapat nyata dalam
sejumlah sifat-sifat molekul. Salah hal yang paling ideal yang berhubungan dengan
efek induksi adalah kecepatan solvolisis 4-(4-alkilbisiklo[2.2.2]oktan-1-il-brosilat.
GUGUS
FUNGSI
Gugs
fungsi adalah gugus atom dalam molekul yang menentukan ciri atau fisik suatu
senyawa. Gugus fungsi ini merupakan atom selain atom karbon dan atom hydrogen dalam
senyawa hidrokarbon dan membentuk ikatan rangkap. Gugus fungsi dapat dikelompokkan
sebagai gugus penarik elektron (-I) dan gugus pendorong elektron (+I) relatif
terhadap atom hidrogen. Sebagai contoh gugus nitro adalah suatu gugus –I, gugus
ini lebih kuat menarik elektron ke dirinya daripada atom hidrogen.
Jadi
di dalam α-nitrotoluena, elektron di dalam ikatan
C-N lebih jauh dari atom karbon daripada elektron di dalam ikatan H-C toluena.
Hal yang serupa, elektron ikatan C-Ph lebih jauh dari cincin daripada di dalam
toluena. Dengan digunakan atom hidrogen sebagai pembanding, gugus NO2 adalah
gugus penarik elektron (-I) dan gugus O- adalah gugus pendorong elektron (+I).
Meskipun demikian, tidak ada pemberian atau penarikan yang benar-benar terjadi,
hanya karena ini istilah ini nyaman digunakan; disini hanya terjadi perbedaan
posisi elektron yang disebabkan oleh perbedaan elektronegativitas antara H
dengan NO2 atau antara H dengan O-.
HIPERKONJUGASI
Hiperkonjugasi
di atas dapat dipandang sebagai overlap antara orbital σ
ikatan C-H dengan orbital Π ikatan C=C, analog dengan overlap π-π. Konsep hiperkonjugasi muncul dari
penemuan penyimpangan pola pengusiran elektron gugus alkil. Dengan efek medan
sendiri, urutan kemampuan mengusir elektron untuk alkil sederhana yang terikat
pada sistem tak jenuh adalah t-butil > isobutil > etil > metil.
Akan
tetapi, Baker dan Nathan mengamati bahwa kecepatan reaksi piridin dengan p-substitusi
benzilbromida berlawanan dengan yang diharapkan dari akibat pengusiran elektron
oleh efek medan. Senyawa tersubstitusi metil bereaksi paling cepat, dan senyawa
tersubstitusi t-butil bereaksi paling lambat.
Peristiwa
ini disebut efek Baker-Nathan dan telah ditemukan di dalam banyak proses. Baker
dan Nathan menjelaskan hal tersebut dengan meninjau keterlibatan bentuk
hiperkonjugasi berkontribusi ke struktur nyata toluena:
Ada
fakta yang menunjukkan bahwa hiperkonjugasi adalah penting bagi karbokation,
radikal bebas, dan molekul keadaan tereksitasi. Hiperkonjugasi molekul netral
dalam keadaan dasar (Muller dan Mullikan menyebut hiperkonjugasi pengorbanan),
bentuk kanonik tidak hanya melibatkan resonansi tanpa ikatan tapi juga pemisahan
muatan yang tidak dimiliki oleh bentuk utama. Di dalam radikal dan karbokation,
bentuk kanonik tidak lagi memperlihatkan adanya pemisahan muatan. Muller dan
Mullikan menyebut hiperkonjugasi isovalen. Bahkan di sini bentuk utama lebih
berkontribusi ke hibrida resonansi daripada bentuk yang lain.
TAUTOMETRI
senyawa
lain yang ada dalam satu campuran dari dua atau lebih senyawa yang secara
struktural berbeda, dan campuran berada dalam kesetimbangan yang cepat. Jika
fenomena ini (disebut tautomeri) ada maka ada pergeseran bolak-balik yang cepat
antara molekul-molekul yang kesetimbangan tersebut. Di dalam peristiwa ini ada
proton yang berpindah dari satu atom dalam satu molekul ke atom yang lain menjadi
molekul lain.
·
Tautomeri
keto-enol
Bentuk
tautomeri yang paling umum adalah tautomeri antara senyawa karbonil yang
mengandung hidrogen-α dengan bentuk enolnya.
·
Tautomeri
fenol-keto
·
Tautomeri
nitroso-oksim
·
Tautomeri
imina-enamina
IKATAN
HYDROGEN
suatu
bentuk interaksi elektrostatik antara atom hidrogen yang terikat pada atom elektronegatif
dengan atom elektronegatif lainnya. Interaksi elektrostatik tersebut diperkuat oleh
kecilnya ukuran atom hidrogen yang memudahkan terjadinya interaksi dipol–dipol antara
atom donor proton (D) dengan atom akseptor proton (A). Ikatan hidrogen ini,
yang digambarkan dengan garis putus-‐putus, dapat terjadi antar-‐molekul maupun
intra-‐molekul. Selain itu, kedua atom elektronegatif tersebut
biasanya (tetapi tidak harus) berasal dari baris pertama Tabel Periodik Unsur,
yaitu nitrogen, oksigen atau fluor.
REGANGAN
RUANG
Regangan merupakan
tensor derajat dua. Dengan demikian keadaan regangan ruang, tiga dimensi, pada
suatu titik dapat dideskripsikan dengan kesembilan komponennya. Pada sistem
koordinat sumbu silang, regangan tersebut adalah exx, eyy, ezz, gxy, gyx, gxz, gzx, gyz, dan gzy.
Regangan
juga dapat diklasifikasikan menjadi dua, yakni regangan normal, dengan notasi eij, i = j, serta regangan geserdengan simbul gij , ij¹.dan gyz=gzy, maka keadaan regangan ruang pada suatu titik
dapat dinyatakan oleh enam komponen, yakni exx, eyy, ezz, gxy, gyz, gzx. Sedangkan regangan bidang, dua dimensi, dapat
dideskripsikan dengan 22 komponennya, dan karena gij= g.
POLARISABILITAS
Polarisabilitas
adalah kemampuan molekul untuk mengimbas molekul lain atau membentuk dipol
sesaat. Kemudahan suatu
molekul untuk membentuk dipol sesaat atau untuk menginduksi (mengimbas) suatu
dipol disebut polarisabilitas (keterpolaran).
Polarisabilitas
ini berkaitan dengan massa molekul relatif (Mr) dan bentuk molekul. Pada
umumnya, makin banyak jumlah elektron, makin mudah mengalami polarisasi. Karena
jumlah elektron berkaitan dengan Mr, maka semakin besar Mr,
semakin kuat gaya London.
Gaya
dispersi London ini termasuk gaya yang relatif lemah, karena interaksi yang
terjadi adalah antar molekul nonpolar. Contoh molekul yang mengalami gaya
london diantaranya: gas hidrogen, gas nitrogen, metana dan gas-gas.
SUMBER
Fessenden, Ralph J, 1986,Organic Chemistry
(Edisi ke-2), Willard Grant Press Publisher,USA.
Kristiani, Elisabeth. (2010).Petunjuk
Praktikum Kimia.Salatiga: UKSW
Ranawidjaja,Jahja,dkk. (1978).Ilmu Kimia
Untuk SMA Jilid 1.Jakarta: PN Balai Pustaka.
Terimakasih materi yang anda berikan sangat membantu dan mudah dipahami :)
BalasHapusMantap sista, saya merasa sangat terbantu dengan materi yang anda bagikan
BalasHapustrim's, mbak cantik
mampir di blog saya ya sist
trimakasih artikelnya, sedikit membantu wawasan saya..
BalasHapus